Review Komik Kami-sama no Iu Tori. Komik Kami-sama no Iu Tori (atau dikenal sebagai As the Gods Will) karya Muneyuki Kaneshiro dengan ilustrasi Akeji Fujimura tetap menjadi salah satu seri survival horror paling intens dan berpengaruh di kalangan penggemar manga hingga kini. Diserialkan dari 2011 hingga 2012 di Bessatsu Shonen Magazine, lalu dilanjutkan dengan sekuel Kami-sama no Iu Tori Ni hingga 2016, total mencapai sekitar 21 volume. Cerita berpusat pada permainan mematikan yang dipaksakan oleh “dewa” kepada remaja sekolah menengah, di mana kegagalan berarti kematian mengerikan. Mulai dari permainan anak-anak seperti Daruma-san ga Koronda hingga permainan yang lebih kompleks dan brutal, seri ini menggabungkan elemen gore, psikologis, dan kritik sosial dengan cara yang sangat mentah. Asano tidak sekadar membuat cerita horor biasa; ia mengeksplorasi sifat manusia di bawah tekanan ekstrem, membuat komik ini sulit dilupakan meski sudah bertahun-tahun berlalu. BERITA OLAHRAGA
Plot yang Penuh Ketegangan dan Twist Tak Terduga: Review Komik Kami-sama no Iu Tori
Cerita dimulai dengan Shun Takahata, siswa SMA yang bosan dengan kehidupan sehari-hari, tiba-tiba terjebak dalam permainan mengerikan ketika kepala gurunya meledak dan muncul boneka Daruma yang memerintahkan aturan mematikan. Siapa pun yang bergerak saat Daruma melihat akan mati secara brutal. Dari situ, Shun dan teman-temannya dipaksa bertahan melalui serangkaian permainan anak-anak yang diubah menjadi neraka: dari Maneki-neko hingga permainan yang lebih sadis di sekuel. Bagian pertama berfokus pada kelompok Shun yang berjuang bertahan hidup, sementara sekuel memperkenalkan karakter baru seperti Akashi Yasuto dan memperluas dunia dengan “dewa” baru seperti Acid Mana dan Kamimaro. Plot tidak berhenti di survival sederhana; ada lapisan misteri tentang asal-usul permainan, siapa yang mengendalikan semuanya, dan apa tujuan sebenarnya. Twist demi twist datang tanpa ampun, terutama di akhir bagian pertama dan sepanjang sekuel, membuat pembaca terus menebak siapa yang akan selamat dan bagaimana cerita akan berakhir. Struktur yang panjang memungkinkan pengembangan karakter mendalam, tapi juga membuat ketegangan tetap tinggi sepanjang seri.
Tema Survival, Sifat Manusia, dan Kritik Sosial yang Tajam: Review Komik Kami-sama no Iu Tori
Salah satu kekuatan utama Kami-sama no Iu Tori adalah eksplorasi sifat manusia di bawah ancaman kematian. Karakter dipaksa menunjukkan sisi terburuk maupun terbaik mereka: ada yang menjadi egois demi bertahan, ada yang berkorban demi orang lain, dan ada yang gila karena tekanan. Permainan anak-anak yang seharusnya polos menjadi metafor untuk tekanan masyarakat Jepang terhadap remaja—seperti ekspektasi sekolah, konformitas, dan ketakutan gagal. Di sekuel, tema ini diperluas dengan konsep “pendidikan” bagi yang bolos sekolah, menyoroti sistem pendidikan yang represif dan bagaimana masyarakat memperlakukan “sampah” yang tidak sesuai norma. Karakter seperti Shun berkembang dari remaja biasa menjadi seseorang yang haus adrenalin dan balas dendam, sementara dewa-dewa seperti Kamimaro merepresentasikan manusia biasa yang bosan dengan kehidupan dan memilih kekacauan sebagai hiburan. Komik ini tidak memberikan moral mudah; justru ia menunjukkan bahwa dalam situasi ekstrem, batas antara korban dan pelaku sering kabur. Banyak pembaca merasa terguncang karena cerita ini terasa terlalu realistis dalam menggambarkan keputusasaan dan kegilaan.
Gaya Seni yang Brutal dan Efektif Membangun Horor
Gaya seni Akeji Fujimura sangat mendukung atmosfer mencekam. Panel-panel detail menangkap ekspresi wajah ketakutan, darah yang menyembur, dan kematian yang grafis tanpa sensor berlebihan. Desain permainan seperti Daruma raksasa atau boneka kokeshi yang mengerikan terasa hidup dan menyeramkan. Saat cerita semakin gelap, seni menjadi lebih kacau: garis lebih tajam, bayangan lebih gelap, dan komposisi panel yang tidak biasa mencerminkan kekacauan mental karakter. Kontras antara wajah polos karakter remaja dengan kekerasan ekstrem membuat horor terasa lebih personal dan mengganggu. Fujimura juga pintar menggunakan close-up dan sudut pandang rendah untuk meningkatkan rasa tak berdaya. Secara keseluruhan, seni ini bukan hanya ilustrasi, melainkan alat utama untuk menyampaikan teror psikologis dan fisik yang menjadi inti cerita.
Kesimpulan
Kami-sama no Iu Tori adalah komik survival horror yang tidak main-main dalam menyajikan kekerasan, psikologi gelap, dan kritik sosial. Muneyuki Kaneshiro dan Akeji Fujimura berhasil menciptakan seri yang membuat pembaca tegang dari awal hingga akhir, dengan twist yang cerdas dan karakter yang kompleks. Meski penuh gore dan tema berat yang bisa terasa overwhelming, komik ini mendapat pujian karena keberaniannya tidak menyensor realitas kejam dan karena berhasil membuat pembaca mempertanyakan sifat manusia di bawah tekanan. Bagi penggemar genre battle royale atau psychological horror seperti Battle Royale atau Alice in Borderland, seri ini wajib dibaca meski dengan persiapan mental. Pada akhirnya, Kami-sama no Iu Tori mengingatkan bahwa permainan anak-anak bisa menjadi neraka terburuk jika diberi kekuasaan mutlak—dan bahwa dalam dunia seperti itu, tidak ada yang benar-benar menang. Karya ini tetap menjadi benchmark bagi manga survival hingga sekarang.
You may also like

Review Komik Batman/Superman: World’s Finest

Review Komik Weak Hero

Leave a Reply