Dandadan Vol 6: Tragedi Mata Jahat dan Gejolak Cinta
Dandadan Vol 6 Jika Anda mencari manga yang bisa membuat Anda tertawa terbahak-bahak, merinding ketakutan, dan menangis terharu dalam satu bab yang sama, Dandadan adalah jawabannya. Karya mangaka Yukinobu Tatsu ini telah menjadi fenomena tersendiri di Shonen Jump+ berkat perpaduan gila antara okultisme (hantu), fiksi ilmiah (alien), dan komedi romantis remaja.
Volume 6 ini berfungsi sebagai titik kulminasi yang krusial bagi arc “Cursed House” (Rumah Terkutuk) yang melibatkan karakter baru, Jin “Jiji” Enjoji. Di volume ini, kekacauan mencapai puncaknya. Kita tidak hanya disuguhi pertarungan eksorsisme yang brutal dan bertempo cepat, tetapi juga diseret paksa untuk melihat sisi paling manusiawi dari para monster. Di balik ledakan energi spiritual dan desain makhluk yang grotesque, Volume 6 menegaskan bahwa hati dari Dandadan adalah empati dan hubungan antarmanusia.
Klimaks Pertarungan: Evil Eye vs. Turbo Granny
Fokus utama volume ini adalah konfrontasi melawan “Evil Eye” (Mata Jahat) yang merasuki tubuh Jiji. Yukinobu Tatsu sekali lagi memamerkan kejeniusannya dalam mengoreografi aksi. Pertarungan di dalam rumah keluarga Jiji yang sempit terasa klaustrofobik namun dinamis.
Momo Ayase harus menggunakan kecerdasannya untuk menahan amukan Evil Eye, sementara Okarun (Ken Takakura) berjuang dengan kecepatan Turbo Granny-nya. Pemanfaatan elemen lingkungan—seperti air mendidih dan struktur bangunan yang runtuh—membuat pertarungan ini terasa taktis, bukan sekadar adu tinju kekuatan super. Tatsu menggunakan paneling yang berani; distorsi perspektif saat Evil Eye menyerang memberikan efek kecepatan dan dampak yang nyata. Pembaca bisa merasakan betapa berat dan berbahayanya setiap serangan yang dilancarkan oleh entitas kuno tersebut.
Tragedi di Balik Monster: Kisah Evil Eye
Namun, kekuatan sejati Volume 6 bukanlah pada aksinya, melainkan pada flashback atau kilas balik masa lalu Evil Eye. Dandadan memiliki pola unik: monster yang mengerikan sering kali lahir dari tragedi kemanusiaan yang mendalam (seperti Acrobatic Silky di volume awal).
Kita dibawa melihat masa lalu di mana Evil Eye hanyalah jiwa dari anak-anak yang dikorbankan dan dikurung dalam kesepian abadi. Visualisasi anak kecil yang sendirian di kegelapan, menunggu seseorang untuk diajak bermain, sangat menyayat hati. Narasi ini mengubah Evil Eye dari antagonis satu dimensi menjadi korban keadaan. Momo Ayase, dengan kepekaan spiritual dan emosionalnya, menyadari hal ini. Resolusi konflik tidak dicapai dengan menghancurkan roh tersebut, melainkan dengan menawarkan apa yang paling diinginkannya: janji untuk bermain dan pengertian. Momen ketika Momo membuat perjanjian (kontrak) dengan Evil Eye adalah bukti bahwa kekuatan terbesar Momo bukanlah psikokinesisnya, melainkan hatinya yang welas asih.
Dinamika Cinta Segitiga yang Unik Dandadan Vol 6
Di tengah kekacauan supranatural, bumbu romansa Dandadan semakin sedap di volume ini. Kehadiran Jiji awalnya dilihat sebagai ancaman bagi hubungan Momo dan Okarun, menciptakan dinamika cinta segitiga klasik. Namun, Tatsu menggarapnya dengan twist yang menyegarkan. (casino)
Jiji bukanlah rival yang jahat; dia adalah teman masa kecil yang tulus, konyol, dan sangat menyayangi Momo. Hal ini justru membuat rasa cemburu dan insecurity Okarun terasa lebih pedih namun realistis. Okarun sadar bahwa dia tidak sekeren atau sekuat Jiji secara fisik, namun dia bertekad untuk melindungi Momo dengan caranya sendiri.
Di sisi lain, kita melihat perubahan signifikan pada perasaan Momo. Kekhawatirannya terhadap Okarun yang terluka dan kelegaannya saat melihat Okarun selamat digambarkan dengan ekspresi wajah yang sangat detail dan lembut. Volume ini mempertegas bahwa di antara mereka berdua, ada ikatan yang lebih dalam daripada sekadar teman berburu hantu. Interaksi canggung mereka setelah pertarungan selesai adalah emas komedi romantis yang membuat pembaca tersenyum lebar.
Seni Visual: Detail yang Menghipnotis
Tidak lengkap membahas Dandadan tanpa memuji kualitas seninya. Yukinobu Tatsu adalah mantan asisten Tatsuki Fujimoto (Chainsaw Man) dan Yuji Kaku (Hell’s Paradise), dan pengaruh itu terlihat jelas, namun Tatsu memiliki “kegilaan” visualnya sendiri.
Desain Evil Eye dalam wujud penuhnya terlihat mengerikan sekaligus stylish, dengan detail anatomi otot dan aura yang digambar menggunakan garis-garis kasar yang energik. Latar belakang (background) yang hancur lebur digambar dengan presisi arsitektural yang tinggi. Kemampuan Tatsu untuk beralih dari gambar horor yang detail ke gambar karakter berwajah konyol (super deformed) dalam satu halaman tanpa merusak mood cerita adalah skill langka. Volume ini adalah pesta visual, baik saat menampilkan hantu yang menyeramkan maupun saat menampilkan momen manis sehari-hari.
Komedi Absurd sebagai Penyeimbang
Meskipun memuat tema berat tentang pengorbanan anak dan kerasukan, Dandadan Vol. 6 tetaplah manga komedi. Dialog-dialog antara Okarun, Momo, dan Jiji (bahkan saat Jiji sedang setengah kerasukan) dipenuhi dengan humor slapstick dan banter yang cepat.
Kelakuan Turbo Granny (dalam wujud boneka kucing maneki-neko) yang terus-menerus menggerutu namun tetap membantu, memberikan levitas yang dibutuhkan. Keseimbangan tonal inilah yang membuat Dandadan begitu adiktif; ia tidak membiarkan pembaca tenggelam terlalu lama dalam kesedihan sebelum menarik mereka kembali dengan lelucon absurd tentang organ vital yang hilang atau alien aneh.
Kesimpulan Dandadan Vol 6
Dandadan, Vol. 6 adalah contoh sempurna mengapa seri ini disebut sebagai “Next Big Thing” di dunia manga. Ia berhasil menutup satu babak cerita dengan emosional sambil membuka potensi konflik baru yang lebih besar (dengan Evil Eye kini menjadi bagian dari tim, semacam bom waktu berjalan).
Volume ini mengajarkan kita bahwa terkadang, cara terbaik untuk mengalahkan monster bukan dengan memukulnya, melainkan dengan memahaminya—dan mungkin, mengajaknya bermain bola. Sebuah bacaan wajib bagi penggemar aksi yang memiliki hati.
You may also like

Review Komik Barefoot Gen

Review Komik Ninja Hattori

Leave a Reply