Review Komik Nana. Nana adalah salah satu karya manga paling berpengaruh dan emosional dalam genre josei sepanjang masa. Dibuat oleh Ai Yazawa dan pertama kali terbit pada tahun 2000, seri ini berhenti pada 2009 setelah 21 volume karena masalah kesehatan penulis, namun tetap dianggap sebagai salah satu masterpiece shojo/josei yang belum selesai. Cerita mengikuti dua wanita bernama Nana yang bertemu di kereta menuju Tokyo: Nana Osaki, vokalis band punk yang ambisius dan penuh semangat, serta Nana Komatsu (dijuluki Hachi), gadis polos yang mencari cinta dan kehidupan baru di kota besar. Di balik judul yang sederhana, komik ini adalah potret kompleks tentang persahabatan perempuan, cinta yang rumit, impian karier, trauma masa lalu, dan bagaimana dua orang yang sangat berbeda bisa saling menjadi penopang hidup satu sama lain. Hampir 25 tahun setelah debut, Nana masih dibaca ulang dan dibahas karena kedalaman emosional dan realisme karakternya. INFO TOGEL
Karakter yang Sangat Hidup dan Penuh Lapisan: Review Komik Nana
Kekuatan terbesar Nana terletak pada karakter utamanya yang terasa seperti manusia sungguhan. Nana Osaki adalah wanita kuat, penuh karisma, tapi juga rapuh karena masa kecil yang sulit dan hubungan toksik dengan Ren. Ia punya mimpi besar menjadi vokalis terkenal, tapi di balik sikap tegasnya ada rasa takut ditinggalkan dan keinginan untuk dicintai apa adanya. Nana Komatsu (Hachi) adalah kebalikannya: gadis manja, polos, dan sering jatuh cinta pada orang yang salah, tapi hatinya sangat tulus dan ia selalu berusaha menjadi pendukung bagi orang lain.
Hubungan kedua Nana ini adalah inti cerita—bukan hanya persahabatan biasa, melainkan ikatan yang sangat dalam dan saling menyembuhkan. Mereka saling melengkapi: Osaki memberi Hachi kekuatan untuk berdiri sendiri, sementara Hachi memberi Osaki rasa aman dan rumah yang selama ini hilang. Karakter pendukung seperti Ren, Takumi, Nobu, Shin, dan Reira juga punya kedalaman luar biasa—masing-masing punya luka, ambisi, dan konflik yang membuat pembaca ikut merasakan sakit dan harapan mereka.
Ai Yazawa tidak pernah membuat karakter jadi hitam-putih. Bahkan antagonis seperti Takumi punya sisi manusiawi yang membuat pembaca sulit membencinya sepenuhnya. Setiap orang punya alasan atas tindakannya, dan itulah yang membuat cerita terasa sangat realistis.
Tema Dewasa yang Jarang Ditemui di Shojo/Josei: Review Komik Nana
Nana bukan komik tentang cinta manis remaja. Ia membahas tema dewasa yang jarang disentuh di genre shojo: kecanduan, perselingkuhan, aborsi, depresi, kekerasan dalam rumah tangga, tekanan industri hiburan, dan bagaimana trauma masa kecil membentuk kepribadian dewasa. Yazawa tidak menghindari sisi gelap kehidupan—ada penggunaan narkoba, hubungan toksik, dan keputusan sulit yang tidak selalu punya akhir bahagia.
Namun di balik kegelapan itu, ada pesan kuat tentang persahabatan perempuan yang tulus. Hubungan antara dua Nana adalah inti penyembuhan: mereka saling menyelamatkan dari kehancuran dengan cara yang tidak sempurna tapi sangat manusiawi. Komik ini juga menyoroti bahwa impian besar sering datang dengan harga mahal, dan bahwa kebahagiaan sejati kadang terletak pada hal-hal kecil seperti kehadiran orang terdekat.
Gaya seni Yazawa yang detail dan ekspresif sangat membantu menyampaikan emosi—mata yang penuh air mata, ekspresi wajah yang berubah cepat, dan panel-panel dramatis yang membuat pembaca ikut merasakan sakit dan bahagia karakter.
Dampak Budaya dan Relevansi Saat Ini
Nana termasuk manga yang paling banyak dibicarakan ulang di era modern, terutama setelah anime 2006–2007 yang ikonik dan OST-nya yang legendaris. Banyak pembaca muda menemukan bahwa tema trauma, kesehatan mental, persahabatan perempuan, dan hubungan toksik masih sangat relevan di zaman sekarang. Komik ini sering direkomendasikan sebagai “gateway” ke josei karena berhasil menggabungkan romansa dengan cerita dewasa yang kompleks.
Ending yang terputus karena masalah kesehatan Yazawa memang menyisakan rasa kecewa bagi banyak pembaca, tapi justru ketidaksempurnaan itu yang membuat cerita terasa lebih nyata—hidup juga sering tidak punya akhir yang rapi. Banyak fan yang berharap kelanjutan suatu hari nanti, tapi status hiatus tetap membuat Nana terasa seperti kisah yang “terus berjalan” dalam imajinasi pembaca.
Kesimpulan
Nana adalah komik yang luar biasa karena berhasil menggabungkan romansa, drama, musik, persahabatan perempuan, dan eksplorasi trauma dalam satu cerita yang sangat manusiawi. Ai Yazawa menciptakan karakter yang terasa hidup, penuh luka tapi juga penuh harapan, serta hubungan yang kompleks dan realistis. Meski belum tamat, komik ini sudah memberikan pesan mendalam: cinta dan persahabatan bisa menjadi penyelamat, tapi juga bisa menyakiti jika tidak dihadapi dengan jujur. Di tengah banyak manga shojo yang fokus pada cinta ideal, Nana memilih menunjukkan sisi gelap dan rumit dari hubungan manusia—dan itulah yang membuatnya abadi. Hampir 25 tahun setelah debut, Nana masih mampu membuat pembaca baru menangis, tersenyum, dan merasa lebih mengerti tentang diri mereka sendiri. Nana bukan sekadar cerita tentang dua gadis bernama sama—ia adalah pengingat bahwa hidup penuh dengan kehilangan dan harapan, dan bahwa kita semua layak dicintai meski terluka.
You may also like

Omniscient Reader Pembaca Mahatahu dalam Dunia Kiamat

Review Komik Baru 2026

Review Komik Berserk: Epik Kelam Fantasi
LINK ALTERNATIF:
Leave a Reply