Review Komik 21st Century Retrogression. Di akhir 2025, manhwa 21st Century Retrogression (judul asli Korea: 21세기 반로환동전) semakin mencuri perhatian penggemar genre martial arts modern dengan premis uniknya. Cerita yang rilis sejak 2024 ini sudah mencapai lebih dari 60 chapter dan terus update rutin, langsung jadi favorit bagi yang suka trope “kembali muda” tapi dieksekusi dengan nuansa Taoism dan pertarungan murim di era kontemporer. Seorang biksu Tao tua yang berhasil melakukan counter-retrogression — teknik rejuvenasi tubuh — tapi hanya punya sisa umur 10 tahun, memaksa dia berpetualang mencari keabadian. Apa yang membuat manhwa ini beda dari ribuan returner lain? REVIEW FILM
Premis Unik dan World Building yang Kaya: Review Komik 21st Century Retrogression
Berbeda dari regressor atau reincarnation biasa, protagonis Ha Pung Gae adalah biksu Tao berusia ratusan tahun sejak akhir dinasti Joseon yang tiba-tiba muda kembali setelah breakthrough teknik kuno. Dunia modern yang penuh gate, hunter, dan energi spiritual jadi latar sempurna untuk clash antara kultivasi tradisional Tao dengan sistem kekuatan kontemporer. Setiap chapter selalu perkenalkan elemen baru dari Taoism klasik seperti qi manipulation, elixir, atau kutukan kuno, tapi disajikan tanpa info dump berat. Pace awal memang lambat untuk bangun fondasi, tapi begitu masuk arc pertarungan pertama, langsung gaspol dan susah berhenti baca.
Protagonis Overpowered tapi Manusiawi: Review Komik 21st Century Retrogression
Ha Pung Gae bukan OP gratisan — dia kuat karena pengalaman berabad-abad, tapi tubuh muda yang baru membuatnya harus adaptasi ulang. Karakternya dingin, bijak, tapi sering kocak saat bingung dengan teknologi modern atau slang anak muda. Interaksi dengan karakter pendukung seperti murid-murid hunter muda atau rival dari sekte lain bikin dia terasa hidup, bukan sekadar mesin pukul. Backstory tragisnya tentang kehilangan di era Joseon juga pelan-pelan terungkap, membuat pembaca semakin invested. Villain juga tidak hitam-putih; banyak yang punya motif kuat terkait perebutan teknik keabadian.
Aksi Brutal dan Visual yang Memukau
Ini salah satu manhwa dengan fight scene terbaik tahun ini. Koreografi martial arts ala wuxia tapi dengan efek modern — ledakan qi, teknik pedang terbang, hingga transformasi tubuh — digambar detail dan dinamis. Panel double spread sering muncul saat klimaks, bikin adrenaline naik. Seni semakin matang seiring chapter, terutama setelah arc gate besar di mana skala pertarungan naik level. Darah, patah tulang, dan gore cukup intens, cocok buat yang suka aksi tanpa sensor tapi tetap stylish.
Kesimpulan
21st Century Retrogression berhasil membawa angin segar ke genre cultivation-returner dengan menggabungkan elemen Taoism klasik Korea, aksi murim brutal, dan setting modern yang relatable. Meski masih ongoing dan kadang pace naik-turun, kualitas cerita serta visual yang terus meningkat membuatnya wajib follow bagi penggemar martial arts. Jika kamu lagi cari manhwa yang bikin binge reading sambil belajar sedikit filsafat Tao, ini pilihan tepat. Dengan chapter terbaru yang semakin mendekati rahasia keabadian sejati, 2026 diprediksi jadi tahun manhwa ini benar-benar peak. Langsung baca dari awal — dijamin ketagihan!
You may also like

Review Komik Estio

Review Komik F-Class Destiny Hunter

Leave a Reply