Review Komik God of Martial Arts. Di akhir 2025, “God of Martial Arts” masih jadi raja tak tergoyahkan di genre manhua cultivation. Dengan lebih dari 700 chapter yang sudah rilis, cerita Lin Feng yang terlahir kembali dengan ingatan kehidupan sebelumnya ini tetap jadi comfort food bagi penggemar “dari sampah jadi dewa”. Meski umurnya sudah panjang, update mingguan masih stabil dan hype-nya tak pernah turun. Bukan cuma soal aksi; ini tentang balas dendam, persahabatan, dan perjalanan klasik menuju puncak dunia bela diri. Kalau kamu butuh manhua yang bikin darah mendidih tiap chapter, ini jawabannya. REVIEW FILM
Plot yang Panjang Tapi Tak Pernah Membosankan: Review Komik God of Martial Arts
Lin Feng mati dibunuh, lalu bangkit kembali ke tubuh remaja dirinya yang dulu dianggap sampah. Dari situ dimulai perjalanan epik: dari sekte kecil, turnamen antar klan, sampai perang antar benua. Sistem cultivation-nya klasik—qi gathering, core formation, domain, sampai level dewa—tapi dieksekusi dengan pacing yang pas. Tiap arc punya tujuan jelas: balas dendam ke klan yang dulu hina dia, lindungi orang-orang terdekat, dan taklukkan musuh yang selalu lebih kuat. Yang bikin tetap segar: penulis tak takut bunuh karakter penting, kasih plot twist keluarga, dan masukkan elemen misteri soal asal-usul Lin Feng yang masih belum selesai sampai sekarang. Chapter terbaru bahkan mulai masuk realm yang lebih tinggi, janjikan klimaks yang sudah ditunggu bertahun-tahun.
Karakter Ikonik dan Chemistry yang Kuat: Review Komik God of Martial Arts
Lin Feng adalah prototipe MC cultivation: dingin kalau perlu, hangat ke teman, dan tak pernah ragu bunuh musuh. Tapi ia tak sendirian. Ada sahabat karib yang rela mati bareng, istri-istri cantik yang kuat sendiri (bukan cuma hiasan), dan rival yang dari benci jadi respect. Karakter wanita di sini termasuk yang paling disukai di genre ini—mereka punya arc sendiri, kekuatan sendiri, dan tak cuma nunggu diselamatkan. Musuh-musuhnya juga tak kalah keren: young master arogan, tetua licik, sampai iblis kuno yang bikin merinding. Dialog antar karakter sering penuh filosofi bela diri, tapi tetap ringan dan kadang lucu.
Seni yang Makin Ganas
Gaya gambarnya termasuk yang paling berkembang di genre manhua. Chapter awal masih agak kaku, tapi sekarang panel aksi-nya epik banget: efek qi yang menyala-nyala, gerakan pedang yang terasa kencang, dan desain skill yang makin detail. Warna cerah khas manhua dipakai maksimal—tiap terobosan realm selalu dapat full color spread yang langsung jadi wallpaper. Fight scene besar biasanya dapat 10-15 halaman tanpa dialog, pure visual yang bikin pembaca cuma bisa bilang “gila”.
Kekurangan yang Masih Ada
Umur panjang bikin ada keluhan klasik: terlalu banyak filler turnamen, young master bodoh yang muncul berulang, dan kadang pacing melambat demi perpanjang cerita. Tapi bagi penggemar setia, ini justru jadi bagian dari pesona—ritual tiap minggu lihat Lin Feng hajar orang sombong.
Kesimpulan
“God of Martial Arts” adalah definisi manhua cultivation legendaris: panjang, konsisten, dan selalu berhasil bikin pembaca teriak “satu chapter lagi” jam 3 pagi. Di 2025, saat banyak judul baru cepat mati, komik ini masih berdiri tegak sebagai benchmark genre. Kalau kamu baru mau masuk, siapin stok kopi dan waktu luang—karena begitu mulai, susah berhenti sebelum Lin Feng benar-benar jadi God of Martial Arts. Manhua yang tak pernah tua, dan itu prestasi tersendiri.
You may also like

Review Komik Estio

Review Komik F-Class Destiny Hunter

Leave a Reply