Review Komik Colorist. Di akhir 2025, ketika genre action manhwa lagi didominasi cerita isekai dan kultivasi, Colorist muncul sebagai angin segar yang gelap dan misterius. Manhwa asal Korea ini, yang baru rilis chapter pertama di platform digital pada November lalu, langsung ramai dibicarakan di forum penggemar. Dengan dunia pasca-apokaliptik di mana warna jadi senjata utama melawan kegelapan, cerita tentang pemuda tak berwarna yang terpaksa jatuh ke dalamnya ini terasa seperti campuran Attack on Titan dan Solo Leveling, tapi dengan twist artistik yang unik. Hanya tujuh chapter yang tersedia, tapi potensinya sudah bikin pembaca antri update mingguan. INFO CASINO
Dunia Hitam yang Menyembunyikan Warna: Review Komik Colorist
Bayangkan Bumi ditaklukkan oleh Black Witch, makhluk kegelapan yang ubah segalanya jadi tinta hitam pekat. Manusia bertahan di kota raksasa penuh cahaya neon dan warna-warni, di mana colorist—pemilik kekuatan pewarnaan—jadi pahlawan utama. Mereka gunakan dropper seperti kuas raksasa untuk cat tinta hitam dengan warna mereka, ciptakan perisai atau serang monster dari tanah hitam. Kota ini kontras brutal: gedung-gedung cerah di tengah lautan kegelapan, dengan ekspedisi rutin ke luar tembok untuk rebut tanah kembali. Premisnya sederhana tapi kuat—warna bukan cuma estetika, tapi simbol harapan dan identitas. Di chapter awal, kita langsung rasakan ketegangan: setiap misi bisa gagal, dan kegagalan berarti ditelan kegelapan selamanya.
Perjalanan Kay yang Penuh Penolakan: Review Komik Colorist
Kay, protagonis utama, adalah remaja biasa yang mimpi jadi colorist untuk lindungi orang-orangnya. Ia daftar ke berbagai tim pionir, tapi selalu ditolak karena “colorless”—tubuhnya tak punya warna apa pun, dianggap cacat genetik yang bikin dia tak berguna. Penolakannya terasa nyata dan menyakitkan, dengan tatapan sinis dari colorist elit yang anggap dia beban. Tapi nasib berubah saat serangan mendadak lempar dia ke lautan tinta hitam, dan ia bangun dengan kekuatan baru: hitam pekat yang bisa serap dan manipulasi kegelapan itu sendiri. Kay bukan tipe hero instan; ia ragu, takut, dan sering salah langkah di chapter awal, bikin pembaca ikut frustrasi sekaligus rooting untuk comeback-nya.
Karakter Pendukung yang Mulai Bersinar
Meski masih dini, karakter lain sudah beri warna—secara harfiah. Red, colorist berambut merah dengan kekuatan api merah membara, muncul sebagai mentor potensial: pria paruh baya yang kuat tapi punya masa lalu kelam, dianggap hero di kalangan sesama colorist. Lalu ada anggota tim pionir lain, seperti wanita biru yang ahli pertahanan atau pemuda hijau yang spesialis penyembuhan, masing-masing punya warna yang definisikan kepribadian dan skill. Mereka awalnya cuek ke Kay, tapi interaksi kecil—like Red selamatkan dia dari monster—mulai bangun ikatan. Antagonisnya, Black Witch dan monster tanah hitam, belum sepenuhnya terungkap, tapi hint soal asal-usul kegelapan bikin penasaran. Chemistry tim terasa organik, dengan dialog tajam yang campur humor gelap dan sindiran sosial soal diskriminasi.
Seni Visual yang Menonjol dan Alur yang Ketat
Yang bikin Colorist beda adalah seni full-color yang memukau: panel-panel kegelapan tinta kontras tajam dengan ledakan warna saat colorist aktifkan kekuatan. Dropper digambarkan seperti senjata futuristik, dengan efek pewarnaan yang terasa hidup—merah mengalir seperti darah, biru beku seperti es. Adegan aksi di chapter 2 dan 3, saat Kay pertama kali tes kekuatan hitamnya, penuh panel dinamis yang bikin mata tak bisa lepas. Alurnya cepat tapi tak buru-buru; chapter pendek fokus bangun dunia dan karakter, dengan cliffhanger seperti serangan mendadak yang tinggalkan pertanyaan besar. Pacingnya solid untuk manhwa baru, tanpa filler yang bikin bosan, meski pembaca harap lore Black Witch dibuka lebih cepat.
Potensi Besar di Tengah Tren Manhwa Baru
Di 2025, saat manhwa action banjir trope overpowered, Colorist menonjol karena tema diskriminasi dan identitas yang dalam. Kay wakili underdog yang kekuatannya dari “cacat” itu sendiri, kritik halus soal prasangka di masyarakat colorist. Penggemar bilang ini punya potensi anti-hero klasik, mirip Sung Jinwoo tapi lebih emosional. Dengan update mingguan dan adaptasi potensial ke animasi, serial ini bisa jadi next big thing di genre pasca-apokaliptik.
Kesimpulan
Colorist adalah manhwa debut yang penuh janji, dengan dunia gelap brilian, perjalanan Kay yang relatable, karakter yang mulai kuat, dan seni yang bikin nagih. Ia bukti genre action bisa punya hati tanpa kehilangan intensitas. Kalau kamu suka cerita di mana hitam bukan akhir, tapi awal kekuatan baru, ini wajib diikuti. Di kota warna-warni yang rapuh, Kay ingatkan satu hal: terkadang, yang paling kuat adalah yang tak terlihat.
You may also like

Review Komik Estio

Review Komik F-Class Destiny Hunter

Leave a Reply